Skip to content
SERAMBI HIKMAH
Menu
  • BERANDA
  • TULISAN
    • FIKIH
    • RENUNGAN
    • CATATAN
    • FURUQ-MEMBEDAKAN ISTILAH
    • MENUA DENGAN MULIA
  • KHUTBAH JUM’AT
  • AL QUR’AN
  • TENTANG
  • LAYANAN
  • KONTAK
Menu

Nasehat dalam Islam: Pelita yang Terus Perlu Dinyalakan

Posted on 07/18/202607/18/2026 by JafarHartono

Nasehat dalam Islam sering datang justru di saat kita paling tidak menyangka membutuhkannya. Ibarat seorang musafir yang berjalan jauh, ada saatnya kakinya menjadi berat, matanya mulai sayup, dan langkahnya tanpa sadar melambat. Bukan karena ia tidak ingin sampai, melainkan karena tubuh dan jiwa memang punya batas. Bila tidak ada yang menepuk pundaknya, ia bisa saja tertidur di tepi jalan — padahal tujuannya masih jauh, dan malam masih panjang.

Begitulah kira-kira gambaran jiwa kita. Ia tidak selalu kuat. Ia juga sering lupa. Kemarin semangat menggebu, hari ini lemas tanpa sebab. Kemarin ingat akhirat, hari ini sibuk dengan hitungan-hitungan dunia. Jiwa yang seperti ini bukanlah jiwa yang rusak — ia hanya jiwa yang manusiawi.

Maka di sinilah kedudukan nasehat dalam Islam menjadi sangat penting. Nasehat bukan sekadar kata-kata bijak yang menumpuk di telinga. Nasehat adalah tepukan di pundak musafir yang mengantuk. Ia memantik ulang kesadaran yang sedang terlena, menyalakan kembali pelita yang nyaris redup. Tanpa nasehat, kita gampang terbuai oleh rutinitas, lalu pelan-pelan kehilangan arah tanpa kita sadari sendiri.

Dari nasehat itulah tumbuh apa yang oleh para ulama disebut “yaqdhoh” (يقظة) — kesadaran, terjaga, bangun. Yaqdhoh bukan tentang melek mata, tapi melek hati. Ia adalah saat kita tiba-tiba merasa: “Sebentar, sudah berapa lama saya begini-begini saja? Sudah ke mana saya selama ini?” Pertanyaan itu tidak datang dari ruang kosong. Ia datang karena ada yang mengingatkan — entah lewat khutbah Jum’at, lewat pengajian malam, lewat obrolan teman, atau lewat tulisan yang tak sengaja terbaca.

Nasehat itu bentuknya memang macam-macam. Kadang ia datang dari mimbar yang resmi, kadang dari bisikan sahabat. Kadang ia panjang dalam kitab tebal, kadang pendek hanya satu kalimat. Tidak penting kemasannya — yang penting ia berhasil menggetarkan hati yang sedang beku.

Di zaman kita sekarang, nasehat bahkan bisa datang lewat layar kecil di genggaman tangan. Sebuah potongan kajian yang lewat di linimasa, sebuah pesan singkat dari teman lama, atau status sederhana yang tiba-tiba menampar kesadaran — semuanya bisa menjadi jalan nasehat, asalkan hati kita masih mau membuka pintu untuk menerimanya. Yang berubah hanyalah medianya, bukan kebutuhan jiwa akan sentuhan itu.

Tapi yaqdhoh saja tidak cukup bila berhenti sebagai perasaan. Hati yang sudah disentuh nasehat menuntut langkah. Maka, mulailah dari yang paling dekat: sediakan jadwal tetap untuk hadir di pengajian, walau hanya seminggu sekali. Datangi shalat Jum’at lebih awal, sehingga khutbah benar-benar terdengar, bukan sekadar formalitas menunggu iqamat. Pilih satu majelis ilmu yang konsisten, lalu hadiri dengan setia — sebab nasehat itu bekerja seperti tetesan air, butuh keberulangan untuk melubangi batu.

Sejarah nasehat dalam Islam sesungguhnya sudah dirintis oleh generasi terbaik umat ini. Umar bin Khattab, ketika berpidato di hadapan rakyatnya, justru meminta agar ia diluruskan bila melenceng — sebab ia sadar kedudukan sebagai pemimpin bisa membuat seseorang rentan luput dari teguran. Para sahabat lain rela menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mendengar satu nasehat atau satu hadits, karena mereka paham: jiwa yang jauh dari nasehat lambat laun akan mengeras sendiri tanpa disadari pemiliknya. Kalau generasi sebaik itu saja masih merasa perlu dinasehati, bagaimana mungkin kita merasa sudah cukup dengan diri sendiri?

Setelah itu, jaga lingkungan. Dekati orang-orang yang bila kita lupa, mereka berani mengingatkan. Jauhi obrolan yang justru membuat hati kita mati pelan-pelan. Sediakan pula sedikit waktu setiap malam untuk membaca — walau hanya satu halaman, satu hadits, satu ayat — agar nasehat tidak hanya datang dari luar, tapi juga lahir dari kesepian kita sendiri di hadapan Tuhan.

Dan yang paling sulit: bersedia menjadi orang yang dinasehati. Tidak tersinggung saat ditegur, tidak membela diri saat diingatkan. Sebab pintu yaqdhoh seringkali tertutup bukan karena tidak ada yang mengetuk, melainkan karena kita sendiri yang enggan membukakannya.

Begitulah jiwa kita — lemah, mudah lupa, dan butuh terus disapa. Selama kita masih hidup, kita masih perlu nasehat dalam Islam yang terus menyala. Selama kita masih perlu nasehat, kita masih punya kesempatan untuk bangun.

“Pelita yang paling bermanfaat bukanlah yang paling terang, melainkan yang paling rajin dinyalakan kembali.”

©2026 SERAMBI HIKMAH | Design: Newspaperly WordPress Theme