Skip to content
SERAMBI HIKMAH
Menu
  • BERANDA
  • TULISAN
    • FIKIH
    • RENUNGAN
    • CATATAN
    • MENUA DENGAN MULIA
  • KHUTBAH JUM’AT
  • TENTANG
  • LAYANAN
  • KONTAK
Menu

Memahami Makna Kehidupan (5 seri)

Posted on 07/16/202607/16/2026 by JafarHartono

Seri 3 — Musibah Itu Tamu

Ibnul Jauzi pernah menulis kalimat yang membuat kita berhenti membaca sejenak: bencana itu tamu, maka sambutlah dengan baik, supaya ia pulang ke negeri pembalasan sambil memuji, bukan mencela. Sebuah kalimat yang aneh — sejak kapan musibah punya lidah untuk bercerita tentang kita?

Ibarat tamu yang datang tanpa mengabari. Pintu diketuk pukul sebelas malam, dan kita sedang tidak punya apa-apa di dapur. Ada tuan rumah yang membuka pintu dengan wajah masam, melayani sambil menggerutu, dan sepanjang malam berharap tamunya segera pergi. Ada pula yang membuka pintu, tersenyum, menyeduh teh seadanya, lalu duduk menemani.

Tamunya sama. Malamnya sama. Tehnya sama. Yang berbeda hanya tuan rumahnya.

Dan tamu selalu punya cerita ketika ia pulang. Ia akan bercerita tentang bagaimana ia diperlakukan, bukan tentang seberapa mewah suguhan yang ia terima.

Bila kita menyambut ujian dengan makian, ia tetap akan singgah selama waktu yang telah ditentukan — tidak berkurang sedetik pun — hanya saja kita menjalaninya dengan hati yang remuk dua kali: remuk oleh ujiannya, dan remuk oleh perlawanan kita sendiri. Berbeda bila kita menyambutnya dengan sabar. Waktunya tetap sama, tetapi kita keluar dari malam itu dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh orang yang hidupnya selalu lapang.

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim — kesedihan, kelelahan, kegelisahan, rasa sakit, bahkan sekadar duri yang menusuknya — kecuali Allah menghapus dosa-dosanya dengan itu. (HR. Bukhari)

Maka setiap tamu tak diundang itu sesungguhnya datang sambil membawa oleh-oleh. Hanya saja bungkusnya buruk rupa, dan kita sering menolaknya sebelum sempat membukanya.

Ibnul Jauzi menutup dengan kalimat yang lebih menohok lagi: seandainya tabir gaib disingkap untukmu, pasti kamu akan mencintai kesedihanmu sendiri.

“Ujian tidak menanyakan apakah kita mau. Ia hanya menanyakan akan kita sambut seperti apa.”

©2026 SERAMBI HIKMAH | Design: Newspaperly WordPress Theme