Skip to content
SERAMBI HIKMAH
Menu
  • BERANDA
  • TULISAN
    • FIKIH
    • RENUNGAN
    • CATATAN
    • MENUA DENGAN MULIA
  • KHUTBAH JUM’AT
  • TENTANG
  • LAYANAN
  • KONTAK
Menu

Memahami Makna Kehidupan (5 seri)

Posted on 07/16/202607/17/2026 by JafarHartono

Seri 2 — Delapan Puluh Tahun untuk Enam Tahun

Kaum muslimin bekerja lebih dari delapan puluh tahun untuk mempersiapkan pasukan yang akan menghadapi Pasukan Salib di Palestina. Tiga generasi pemimpin — Imaduddin Zengi, Nuruddin Mahmud, hingga Salahuddin Al-Ayyubi — habis di jalan persiapan itu. Hattin akhirnya menang, Yerusalem akhirnya terbuka. Lalu kejayaan itu bertahan berapa lama? Enam tahun. Setelah Salahuddin wafat, negeri besar itu terbelah di antara anak dan saudaranya sendiri.

Ibarat kembang api yang dirakit berbulan-bulan. Bubuknya ditakar, sumbunya diukur, tabungnya disusun dengan sabar dan ketelitian yang melelahkan. Lalu ia dinyalakan, membubung, pecah menjadi cahaya — dan selesai dalam tiga detik.

Bila kita mengira nilai kembang api ada pada tiga detik itu, kita akan menganggap semua kerja panjang tadi sia-sia. Berbeda bila kita mengerti bahwa yang membentuk seseorang bukan letusannya, melainkan hari-hari sunyi saat ia dididik.

Begitu pula hidup kita. Masa persiapan selalu jauh lebih panjang daripada masa panen. Belasan tahun sekolah untuk satu lembar ijazah. Puluhan tahun mengasuh untuk satu hari pernikahan anak. Bertahun-tahun menabung untuk satu rumah yang kelak kita tinggalkan juga.

Dan barangkali di situlah letak salah paham kita yang paling lama: kita mengira makna hidup ada di puncaknya. Padahal Allah tidak berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk berkuasa.” Yang Dia firmankan adalah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Maka bila masa persiapan kita terasa terlalu panjang, jangan buru-buru menyebutnya kegagalan. Boleh jadi itu justru bagian terbaik dari hidup kita — masa ketika kita paling banyak berdoa, paling sering menunduk, paling dekat dengan-Nya.

Sebab puncak itu singkat, dan sering kali di puncak itulah orang mulai lupa cara bersujud.

“Yang panjang bukan hukuman, dan yang singkat bukan hadiah. Yang panjang itu ladang, yang singkat itu ujian.”

©2026 SERAMBI HIKMAH | Design: Newspaperly WordPress Theme