Ibarat sebuah rumah, pintu adalah benda yang paling sering kita lewati dan paling jarang kita hitung. Ia berdiri diam di sana setiap hari: membuka ketika kita datang, menutup ketika kita pergi. Tidak ada yang istimewa dari sebilah kayu yang dipasang tegak pada lubang dinding.
Bila pintu itu ada, kita nyaris tidak merasakan apa-apa. Kita masuk, kita keluar, kita tidur tanpa pernah berterima kasih kepada siapa pun. Berbeda bila pintu itu tidak ada. Angin masuk semaunya. Hujan menyapu lantai. Malam menjadi panjang karena setiap suara di luar terdengar seperti ancaman. Barulah kita tahu bahwa sebilah kayu tadi ternyata menanggung seluruh rasa aman kita.
Begitulah cara kerja nikmat: ia paling jelas terbaca justru ketika ia pergi.
Ada sebuah kisah tentang seorang janda miskin yang tinggal bersama anaknya di sebuah kamar di atas atap rumah orang. Kamar itu hanya terdiri dari empat dinding dan sebuah pintu kayu — tanpa atap. Bertahun-tahun kota itu jarang dilanda hujan deras, sampai suatu malam awan berkumpul, langit menghitam, dan air tumpah membasahi apa saja.
Anaknya yang masih kecil menatap ibunya dengan bingung, lalu berlari ke dalam pelukan dengan baju yang sudah basah kuyup. Sang ibu bergegas melepas pintu kamar, menyandarkannya miring ke dinding, dan menempatkan anaknya di bawah pintu itu agar terlindung dari air yang turun deras.
Anak itu memandang ibunya, tersenyum, lalu bertanya dengan polos: “Bagaimana ya, Bu, nasib orang miskin yang tidak punya pintu ketika hujan turun pada mereka?”
Kita mungkin tersenyum getir mendengarnya. Anak itu sedang kehujanan di kamar tanpa atap, dan yang terlintas di kepalanya justru orang lain yang lebih tidak punya. Ia tidak sedang menghitung apa yang hilang. Ia sedang menghitung apa yang tersisa.
Dan di situlah letak kekayaan yang sesungguhnya. Bukan pada seberapa banyak yang kita genggam, melainkan pada seberapa jernih mata kita menakar nilai dari apa yang sudah ada di tangan.
Maka gambaran ini ibarat kita hari ini. Kita bukan hanya punya pintu — kita punya atap. Kita punya kasur, punya lemari, punya nasi yang masih hangat di meja. Tetapi mata kita sibuk mengukur rumah tetangga, dan lidah kita lebih fasih mengeluh daripada memuji.
Padahal Nabi ﷺ pernah bersabda:
مَن أصبحَ منكم آمنًا في سربِهِ ، مُعافًى في جسدِهِ عندَهُ قوتُ يومِهِ ، فَكَأنَّما حيزت لَهُ الدُّنيا
“Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.”
HR. Tirmizi dan Ibnu Majah — derajat hasan (Sunan Ibnu Majah no. 4141). Sumber: HadeethEnc.com, hadis no. 5840.
Tiga saja. Sehat, aman, dan makan untuk hari ini. Bila tiga hal itu ada pada kita pagi tadi, maka sesungguhnya dunia sudah dilipat dan diletakkan di pangkuan kita — hanya saja kita belum sempat membukanya karena terlalu sibuk mencari yang lain.
Nikmat memang jarang berteriak. Ia bekerja dalam diam, seperti pintu.
Dan apa pun yang bekerja dalam diam selalu paling terasa ketika ia tidak lagi ada.
“Orang kaya bukanlah yang memiliki segalanya, tetapi yang sadar atas apa saja yang sudah ia miliki.”
