Skip to content
SERAMBI HIKMAH
Menu
  • BERANDA
  • TULISAN
    • FIKIH
    • RENUNGAN
    • CATATAN
    • FURUQ-MEMBEDAKAN ISTILAH
    • MENUA DENGAN MULIA
  • KHUTBAH JUM’AT
  • AL QUR’AN
  • TENTANG
  • LAYANAN
  • KONTAK
Menu
← Daftar surat Surat sebelumnya Surat berikutnya
الشعراۤء 26. Asy-Syu'ara' (Para Penyair) · Mekah · 227 ayat

وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ 81

Wal-lażī yumītunī ṡumma yuḥyīn(i).

(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali).

Tafsir Kemenag — ayat 81

Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang mematikan manusia, kemudian Dia pula yang menghidupkan dan membangkitkan kembali. Tidak seorang pun yang berhak dan sanggup berbuat itu, kecuali Dia sendiri. Dimaksudkan dengan menghidupkan dalam ayat ini adalah membangkitkan kembali sesudah mati. Antara datangnya kematian dan kehidupan baru ditandai dengan waktu yang lama dan tidak bisa diketahui oleh manusia ketentuan datangnya. Kalau dipersoalkan, mati juga kadang-kadang akibat perbuatan manusia itu sendiri, sedang dalam ayat ini Allah menegaskan Dia sendirilah yang mematikan manusia, maka bagaimana kita membedakan mati yang dinisbahkan kepada Allah dan sakit yang disebabkan oleh manusia? Mati adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku bagi semua orang tanpa kecuali, sedangkan sakit khusus menimpa seseorang. Artinya belum tentu semua orang menderita suatu macam penyakit, masing-masing mereka menderita penyakit yang berbeda pula. Sering pula orang mati secara mendadak, tanpa didahului oleh sakit. Jelaslah mati itu umum sifatnya, sebaliknya sakit khusus menimpa diri seseorang.

وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ۗ 82

Wal-lażī aṭma‘u ay yagfira lī khaṭī'atī yaumad-dīn(i).

(Dia) yang sangat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Pembalasan.”

Tafsir Kemenag — ayat 82

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa hanya Allah semata yang mengampuni dosa seseorang di hari akhirat (lihat pula Surah ali 'Imran/3: 135). Tidak ada seorang pun yang dapat menanggung dosa orang lain, tetapi masing-masing bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. Allah berfirman:

Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. (al-An'am/6: 164)

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ 83

Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn(a).

(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.

Tafsir Kemenag — ayat 83

Ibrahim bermohon agar dianugerahi hikmah. Hikmah berarti ilmu pengetahuan yang diamalkan dengan baik. Dalam hubungannya dengan kepribadian orang yang saleh, hikmah diartikan sebagai petunjuk Tuhan dalam beramal, dengan taufik Allah ia terlepas dari segala perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Sementara itu ahli tafsir yang lain ada yang mengartikan hikmah dengan perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dalam memutuskan suatu perkara. Dalam kaitannya dengan doa Ibrahim ini, hikmah ditafsirkan sebagai pengetahuan tentang sifat-sifat ketuhanan dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, beliau berdoa pula agar dimasukkan ke dalam lingkungan orang-orang yang baik-baik, dan pada golongan yang senantiasa bertawakal kepada-Nya. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. (al-Baqarah/2: 130)

Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah berdoa seperti doa Nabi Ibrahim, yakni:

"Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh, bukan golongan orang-orang yang hina dan tertimpa musibah (fitrah)." (Riwayat Ahmad dari Rifa'ah bin Rafi')

وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ 84

Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn(a).

Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.

Tafsir Kemenag — ayat 84

Selanjutnya Ibrahim berdoa agar nama baik beliau menjadi buah bibir yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, sehingga beliau menjadi suri teladan yang utama sampai hari Kiamat, ini pun dikabulkan Allah, sebagaimana firman-Nya:

Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, "Selamat sejahtera bagi Ibrahim." Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (as-saffat/37: 108-110).

Janji Allah dalam ayat di atas dibuktikan kebenarannya dalam lembaran sejarah kenabian. Banyak sekali dari keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi nabi dan rasul Allah, baik dari keturunan Ismail ataupun dari keturunan Ishak. Agama-agama besar di dunia (Islam, Kristen dan Yahudi) masing-masing menggolongkan agamanya kepada Nabi Ibrahim. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan dan dihormati oleh berbagai agama menurut caranya masing-masing. Berdasarkan keterangan ini, wajarlah andaikata mereka menganggap Ibrahim adalah seorang Yahudi (menurut pengakuan orang Yahudi). Demikianlah pula halnya Ibrahim dipandang sebagai orang Nasrani (menurut kepercayaan agama Nasrani), sebab Isa Almasih putra Maryam juga masih keturunan Nabi Ibrahim. Tegasnya dalam sejarah kenabian, ia dianggap sebagai bapak para nabi. Akan tetapi, semua dugaan bahwa Ibrahim penganut Yahudi atau penganut agama tertentu tidak benar. Al-Qur'an membantah keyakinan demikian:

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik. (ali 'Imran/3: 67)

Adapun pengertian buah tutur yang baik dalam doa ini ialah Nabi Muhammad. Beliau memang keturunan Nabi Ibrahim (dari pihak Ismail) yang terakhir yang diangkat sebagai nabi dan rasul. Risalah Nabi Muhammad (dan juga para nabi) adalah risalah agama tauhid. Rasulullah sendiri dalam sebuah hadis mengatakan:

Aku ini (pelaksanaan bagi terkabulnya) doa Ibrahim. (Riwayat Muslim dari 'Aisyah)

Pada hakikatnya agama yang disampaikan Nabi Muhammad merupakan lanjutan dari ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim.

وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ 85

Waj‘alnī miw waraṡati janatin na‘īm(i).

Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.

Tafsir Kemenag — ayat 85

Setelah Nabi Ibrahim memohon pahala keduniawian, yakni dengan dijadikan nama baiknya sebagai suri teladan bagi orang-orang sesudahnya, ia pun berdoa pula agar menikmati balasan amalnya di akhirat. Yakni nikmat kesenangan surga beserta orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalamnya. Ungkapan ayat ini memakai kata-kata "yang mewarisi surga", karena diserupakan dengan kesenangan yang diperoleh seorang raja dalam kerajaan yang diwarisi dari bapaknya.

وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ۙ 86

Wagfir li'abī innahū kāna minaḍ-ḍāllīn(a).

Ampunilah ayahku! Sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat.

Tafsir Kemenag — ayat 86

Kemudian ia berdoa pula untuk kesejahteraan dan keselamatan bapaknya (azar) yang tetap musyrik. Namun setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ayahnya adalah musuh Allah karena menyekutukan-Nya, akhirnya Ibrahim berlepas diri dari ayahnya. Firman Allah:

Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah/9: 114).

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ 87

Wa lā tukhzinī yauma yub‘aṡūn(a).

Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.

Tafsir Kemenag — ayat 87

Selanjutnya Ibrahim bermunajat kepada Allah agar ia tidak mengalami penghinaan di hari Kiamat kelak. Ini memberi kesan betapa rendah hatinya seorang nabi, sekalipun ia telah memperoleh derajat yang begitu tinggi di sisi Allah, namun ia masih bermohon agar tidak dihinakan pada hari Kiamat. Ibrahim mengadu kepada Tuhan seraya berkata, "Wahai Tuhan, bukankah engkau telah menjanjikan bahwa aku tidak akan dihinakan di hari Kiamat. Manakah penghinaan yang lebih berat lagi rasanya bagiku daripada penghinaan bertemu dengan bapakku dalam keadaan begini?" Allah merespon doanya dengan berfirman, "Hai Ibrahim, sesungguhnya aku haramkan surga bagi orang-orang kafir."

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ 88

Yauma lā yanfa‘u māluw wa lā banūn(a).

(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.

Tafsir Kemenag — ayat 88

Ayat ini menerangkan tentang kehebatan hari Kiamat. Tiada yang selamat pada hari itu dari siksaan Allah, kecuali orang yang bebas dari dosa dan kesalahan. Harta dan anak keturunan yang dimiliki waktu di dunia tidak satu pun yang bisa menolong. Secara khusus Allah menyebutkan "anak" dalam ayat ini, karena anak-anak itulah yang paling dekat dan paling banyak memberi manfaat kepada orang tuanya di dunia. Pada ayat lain, Allah menerangkan bahwa anak-anak adalah harta perhiasan kehidupan keduniawian. Sebaliknya amal yang saleh dan baik pahalanya akan kekal sampai kiamat. Ketika Allah menurunkan ayat tentang emas dan perak (Surah at-Taubah/9: 34), para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang harta apakah yang sebaiknya dimiliki agar mendatangkan faedah (untuk kehidupan ukhrawi). Rasulullah menjawab:

(Kekayaan) yang paling baik ialah lidah yang selalu zikir kepada Allah, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri yang saleh menolong suaminya tetap beriman." (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari sauban)

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ 89

Illā man atallāha biqalbin salīm(in).

Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Tafsir Kemenag — ayat 89

Ayat ini menjelaskan bahwa kesenangan yang bakal diperoleh di akhirat, tidak dapat dibeli dengan harta yang banyak. Juga tidak mungkin ditukar dengan anak dan keturunan yang banyak. Sebab masing-masing manusia hanya diselamatkan oleh amal dan hatinya yang bersih. Tetapi orang yang diselamatkan hanyalah mereka yang akidahnya bersih dari unsur-unsur kemusyrikan dan akhlaknya mulia.

وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ 90

Wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqīn(a).

Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.

Tafsir Kemenag — ayat 90

Surga itu didekatkan sedemikian rupa kepada orang-orang yang bertakwa, sehingga dapat dilihat dengan nyata. Bagaimana surga itu didekatkan, diterangkan pada ayat lain:

Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka). (Qaf/50: 31)

Mendekatkan surga kepada orang-orang bertakwa akan menggembirakan mereka karena ketaatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia, segera akan membuahkan hasil. Mereka akan segera memasukinya.

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِلْغَاوِيْنَ ۙ 91

Wa burrizatil-jaḥīmu lil-gāwīn(a).

(Neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.

Tafsir Kemenag — ayat 91

Sebaliknya, neraka juga diperlihatkan kepada orang-orang yang sesat. Mereka menyaksikan kedahsyatan kobaran apinya. Dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa kobaran api neraka itu dari jauh saja sudah terdengar gejolaknya. Itulah yang akan menjadi tempat kediaman mereka, tanpa dapat mengelak lagi. Ayat itu menggambarkan betapa cepat siksaan tersebut menimpa mereka. Sungguh hal itu tidak pernah mereka bayangkan ketika masih ada di dunia ini, karena mereka tidak peduli dengan azab Allah, seperti dijelaskan dalam ayat ini:

Dan kepada mereka dikatakan, "Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu. (al-Jatsiyah/45: 34)

وَقِيْلَ لَهُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ 92

Wa qīla lahum ainamā kuntum ta‘budūn(a).

Dikatakan kepada mereka, “Di mana berhala-berhala yang selalu kamu sembah

Tafsir Kemenag — ayat 92

Kemudian pada saat menghadapi neraka yang siap menerima orang-orang kafir dan musyrik, dilontarkan pertanyaan untuk mencemoohkan mereka, "Di manakah tuhan-tuhan berhala yang kamu sembah itu kini berada? Sanggupkah mereka menyelamatkan kamu dari siksaan Allah?" Jangankan untuk menyelamatkan orang lain, melepaskan diri mereka saja, tuhan-tuhan berhala itu tidak sanggup.

مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗهَلْ يَنْصُرُوْنَكُمْ اَوْ يَنْتَصِرُوْنَ ۗ 93

Min dūnillāh(i), hal yanṣurūnakum au yantaṣirūn(a).

selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong dirinya sendiri?”

Tafsir Kemenag — ayat 93

Kemudian pada saat menghadapi neraka yang siap menerima orang-orang kafir dan musyrik, dilontarkan pertanyaan untuk mencemoohkan mereka, "Di manakah tuhan-tuhan berhala yang kamu sembah itu kini berada? Sanggupkah mereka menyelamatkan kamu dari siksaan Allah?" Jangankan untuk menyelamatkan orang lain, melepaskan diri mereka saja, tuhan-tuhan berhala itu tidak sanggup.

فَكُبْكِبُوْا فِيْهَا هُمْ وَالْغَاوٗنَ ۙ 94

Fa kubkibū fīhā hum wal-gāwūn(a).

Mereka (sesembahan itu) dijungkirbalikkan di dalamnya (neraka) bersama orang-orang yang sesat.

Tafsir Kemenag — ayat 94

Kemudian orang-orang yang sesat dan telah ditetapkan sebagai penghuni neraka dijungkirkan bersama-sama pimpinan mereka dan tentara iblis seluruhnya. Tentara iblis dalam ayat ini dimaksudkan ialah orang-orang yang suka mengikuti perbuatan maksiat. Baik mereka yang mengikuti atau pemimpin yang diikuti sama-sama dilemparkan ke dalamnya.

وَجُنُوْدُ اِبْلِيْسَ اَجْمَعُوْنَ ۗ 95

Wa junūdu iblīsa ajma‘ūn(a).

(Begitu pula) bala tentara Iblis (dan) semuanya (dijungkirbalikkan).

Tafsir Kemenag — ayat 95

Kemudian orang-orang yang sesat dan telah ditetapkan sebagai penghuni neraka dijungkirkan bersama-sama pimpinan mereka dan tentara iblis seluruhnya. Tentara iblis dalam ayat ini dimaksudkan ialah orang-orang yang suka mengikuti perbuatan maksiat. Baik mereka yang mengikuti atau pemimpin yang diikuti sama-sama dilemparkan ke dalamnya.

قَالُوْا وَهُمْ فِيْهَا يَخْتَصِمُوْنَ 96

Qālū wa hum fīhā yakhtaṣimūn(a).

Mereka (orang-orang sesat) berkata sambil bertengkar di dalamnya (neraka),

Tafsir Kemenag — ayat 96

Dalam neraka, para pemimpin yang menyesatkan dan para pengikutnya saling menyalahkan. Mereka saling mempertanyakan siapa yang telah membawa mereka melakukan kejahatan sehingga masuk neraka.

تَاللّٰهِ اِنْ كُنَّا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۙ 97

Tallāhi in kunnā lafī ḍalālim mubīn(in).

“Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (di dunia) benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Tafsir Kemenag — ayat 97

Setelah bertengkar, mereka pun sama-sama menyadari bahwa tiada yang patut disalahkan kecuali diri mereka sendiri. Mereka mengakui bahwa kesesatan mereka sangat parah, yaitu mempersekutukan Allah

اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 98

Iż nusawwīkum birabbil-‘ālamīn(a).

(Yaitu) ketika kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan semesta alam.

Tafsir Kemenag — ayat 98

Mereka sangat menyesali kenapa menganggap berhala itu sama kekuasaannya dengan Allah, sehingga mereka menyembahnya.

وَمَآ اَضَلَّنَآ اِلَّا الْمُجْرِمُوْنَ 99

Wa mā aḍallanā illal-mujrimūn(a).

Tidak ada yang menyesatkan kami, kecuali para pendosa.

Tafsir Kemenag — ayat 99

Di samping karena kesalahan sendiri, mereka juga terpengaruh oleh ajakan-ajakan jahat dari para pemimpin mereka. Para pemimpin itu selalu berpropaganda melakukan berbagai perbuatan yang melanggar agama sehingga mereka mengikutinya. Ini dikatakan lagi oleh Allah dalam ayat lain:

Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (al-Ahzab/33: 67)

Susunan ayat ini sangat lugas menjelaskan penyesalan dari orang-orang yang mengikuti seorang pemimpin tanpa menyadari ke mana mereka dibawa. Jadi, kita tidak harus menaati seorang pemimpin jika yakin bahwa pemimpin tersebut justru membawa kepada kedurhakaan.

فَمَا لَنَا مِنْ شٰفِعِيْنَ ۙ 100

Famā lanā min syāfi‘īn(a).

Tidak ada pemberi syafaat (penolong) untuk kami.

Tafsir Kemenag — ayat 100

Orang-orang kafir dan musyrik itu baru menyadari bahwa di akhirat ini, tidak ada orang lain ataupun malaikat yang akan membantu mereka melepaskan diri dari azab Allah yang sudah di depan mata. Seandainya, di dunia dulu mereka beriman dan beramal saleh, pasti hal itu akan memberi syafaat kepada mereka..

← Ayat sebelumnya Ayat 81–100 dari 227 Ayat berikutnya →
Sumber teks, terjemahan, dan tafsir: Kementerian Agama RI, melalui API eQuran.id v2.

©2026 SERAMBI HIKMAH | Design: Newspaperly WordPress Theme