Setiap masjid punya serambi. Ruang di depan, sebelum pintu utama, tempat orang melepas sandal dan duduk sebentar. Bukan ruang yang megah. Kadang cuma lantai keramik yang dingin, beberapa tiang, dan angin yang lewat.
Tapi cobalah perhatikan. Di ruang utama, orang shalat. Khusyuk, tertib, menghadap satu arah. Di serambi, orang berbicara. Bertanya. Menunggu iqamah sambil menyandarkan punggung ke tiang.
Dan kalau kita mau jujur, tidak sedikit ilmu yang justru berpindah di sana. Bukan dari mimbar, tapi dari obrolan seorang tua yang sudah lama mengaji kepada anak muda yang baru mulai bertanya. Tanpa mikrofon. Tanpa jadwal. Tanpa siapa pun merasa sedang mengajar.
Bila serambi ini luas dan bersih, orang betah singgah. Ada yang datang lebih awal hanya karena ingin duduk di situ. Ada yang pulang belakangan karena obrolannya belum selesai. Serambi yang hidup membuat masjid terasa seperti rumah, bukan sekadar tempat menunaikan kewajiban.
Berbeda bila serambi itu sempit dan gelap. Orang lewat begitu saja. Masuk, shalat, pulang. Tidak ada yang salah dengan itu — kewajiban tetap tertunaikan. Tapi ada sesuatu yang hilang. Yang hilang adalah perjumpaan.
Maka gambaran ini ibarat tempat kita berdiri sekarang.
Situs ini bukan mimbar. Tidak ada khutbah di sini, tidak ada fatwa yang mengikat, tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang membaca. Yang ada cuma catatan — sebagian tentang fikih yang sedang kita pelajari bersama, sebagian tentang hidup yang sedang kita jalani bersama.
Namanya serambi karena memang begitu niatnya. Tempat singgah. Tempat duduk sebentar sebelum kita masing-masing kembali ke urusan sendiri.
Dan siapa pun yang pernah duduk di serambi masjid tahu satu hal: orang tidak duduk di sana untuk mendapatkan segalanya. Cukup satu kalimat yang menempel di kepala sepanjang perjalanan pulang, dan duduk itu sudah tidak sia-sia.
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Adz-Dzariyat: 55)
Ayat itu tidak mengatakan peringatan akan mengubah semua orang. Tidak juga menjanjikan hasil yang besar. Ia cuma menyebut satu kata: bermanfaat. Kadang manfaat memang sesederhana itu — tidak megah, tidak seketika, tapi ada.
Jadi kalau hari ini kita sudah sampai di sini, silakan duduk. Tidak perlu lama. Tidak perlu membaca semuanya.
“Sebab ilmu itu tidak selalu berpindah lewat pintu utama. Sering kali ia menunggu kita di serambi, sabar, sambil menanti siapa yang mau berhenti sebentar.”
Masaran, 15 Juli 2026
