KHUTBAH JUM’AT
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah — takwa yang sesungguhnya: menjalankan perintah-Nya dengan penuh harap, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh takut. Karena hanya dengan takwa itulah kita layak berdiri di hadapan-Nya kelak.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Pernahkah kita membayangkan sebuah perusahaan yang menggaji karyawannya bukan hanya atas pekerjaan yang selesai — tetapi juga atas niat untuk bekerja? Karyawan baru berniat lembur, gajinya sudah dicatat. Baru terlintas keinginan membantu rekan kerja, bonusnya sudah masuk pembukuan.
Tidak ada perusahaan seperti itu di dunia ini. Tidak ada atasan sedermawan itu. Tidak ada sistem penggajian semurah hati itu.
Tapi ada satu “pembukuan” yang bekerja persis seperti itu — bahkan jauh lebih dermawan. Pembukuan milik Allah ‘Azza wa Jalla.
Dengarkanlah baik-baik sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan keduanya. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan lalu tidak jadi mengamalkannya, Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu mengamalkannya, Allah mencatat di sisi-Nya sepuluh kebaikan, hingga tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang sangat banyak. Dan barangsiapa berniat melakukan satu keburukan lalu tidak jadi mengamalkannya, Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu mengamalkannya, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Mari kita cermati beberapa hal dari hadits agung ini.
Pertama, tentang kata “hamm” (هَمَّ).
Para ulama menjelaskan bahwa hamm bukanlah sekadar lintasan pikiran yang lewat begitu saja di benak kita. Hamm adalah kehendak — tekad hati yang sudah condong untuk melakukan sesuatu, satu tingkat di atas bisikan yang datang dan pergi. Artinya: begitu hati kita sungguh-sungguh berkeinginan berbuat baik, di saat itu juga pena rahmat Allah sudah bergerak.
Kedua, perhatikan kata “hasanah kaamilah” — kebaikan yang sempurna.
Bukan setengah kebaikan. Bukan kebaikan potongan. Padahal kita belum berbuat apa-apa. Baru niat. Baru kehendak di dalam dada. Tetapi Allah sudah menulisnya sebagai kebaikan yang utuh, tanpa dikurangi sedikit pun.
Ketiga, matematika pelipatgandaan pahala.
Jika niat baik itu benar-benar kita wujudkan, catatan-Nya melompat: sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, bahkan tanpa batas — ilaa adh’aafin katsiirah. Ini selaras dengan firman Allah:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa berbuat kebaikan, baginya sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan, dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, dan mereka sedikit pun tidak dizalimi.” (QS. Al-An’am: 160)
Keempat, rahmat Allah bahkan atas niat buruk.
Inilah bagian yang paling menakjubkan. Seseorang berniat maksiat, lalu ia meninggalkannya karena takut kepada Allah — justru dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Niat buruknya berubah menjadi pahala! Jika ia meninggalkannya begitu saja, tidak dicatat apa-apa. Dan kalaupun ia terlanjur melakukannya — hanya dicatat satu dosa, setimpal, tidak dilipatgandakan.
Bahkan, jamaah sekalian, terdapat riwayat dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu — diriwayatkan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dihasankan oleh sebagian ulama — bahwa malaikat pencatat keburukan menahan penanya selama enam waktu, menanti: barangkali hamba itu menyesal dan beristighfar. Jika ia bertaubat, keburukan itu tidak jadi ditulis.
Renungkanlah. Kebaikan disegerakan pencatatannya sejak masih berupa niat. Keburukan justru ditunda-tunda, diberi ruang, diberi kesempatan. Inilah cerminan kasih sayang Allah: Dia bersegera dalam rahmat, dan tidak tergesa-gesa dalam murka.
Timbangan macam apa ini, wahai jamaah? Kalau ini perlombaan, kita sudah diberi start jauh di depan. Kalau ini perdagangan, kita sudah diberi modal sebelum berdagang. Kalau ini ujian, kita sudah diberi nilai sebelum mengerjakan soal.
Maka jamaah yang dimuliakan Allah, ada dua pesan dari khutbah pertama ini.
Pesan pertama: jangan pernah remehkan niat baik yang melintas di hatimu.
Terbersit ingin bersedekah — itu sudah pahala. Terlintas ingin menjenguk saudara yang sakit — itu sudah pahala. Berniat bangun tahajud walau akhirnya kesiangan — niat itu sudah tercatat sempurna di sisi-Nya. Maka rawatlah niat-niat baik itu. Sambutlah ia. Jangan biarkan ia layu sebelum sempat kita tanam. Karena siapa tahu, justru niat-niat kecil itulah yang kelak memberatkan timbangan kita.
Pesan kedua: jangan biarkan satu dosa membuatmu berputus asa.
Kita semua pernah jatuh. Kita semua pernah terpeleset. Tidak ada satu pun di antara kita yang sempurna. Tetapi lihatlah: Allah hanya mencatat dosa itu satu — sementara pintu taubat terbuka lebar, dan istighfar bisa menghapusnya. Iblis ingin agar satu dosa membuat kita merasa kotor, lalu menyerah, lalu menjauh dari Allah. Padahal Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Dosa boleh jadi membuat kita malu. Tapi jangan sampai ia membuat kita berhenti berjalan pulang kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Masih ada satu pesan lagi yang harus kita bawa pulang.
Pesan ketiga: jagalah dirimu dari keburukan yang bisa terus mengalir setelah kita tiada.
Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12)
Yang dicatat bukan hanya amal kita — tetapi juga jejak kita. Bekas yang kita tinggalkan. Maka hati-hatilah dengan apa yang kita sebarkan, bisa jadi jasad kita sudah terbujur di liang lahat, sementara dosa masih terus mengalir ke catatan kita — dari keburukan yang dulu kita tanam dan kini dipetik orang lain.
Sebaliknya, tinggalkanlah kebaikan yang bisa terus hidup: ilmu yang bermanfaat, anak yang shalih yang mendoakan, amal jariyah yang terus mengalir. Itulah warisan yang paling berharga — warisan yang tidak habis dibagi, tidak susut dimakan zaman.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebentar lagi kita keluar dari masjid ini. Kita keluar membawa dua tangan yang masih bisa berbuat baik, hati yang masih bisa merasakan, dan usia yang masih Allah titipkan. Itu semua adalah modal yang luar biasa.
Gunakanlah ia sebaik-baiknya. Karena suatu hari nanti, kita akan meninggalkan semua ini — dan yang tersisa hanyalah apa yang kita tanam.
Marilah kita tutup dengan berdoa kepada Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Ya Allah, jangan biarkan niat-niat baik kami layu sebelum berbuah. Mudahkanlah kami mewujudkannya menjadi amal.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, dan jauhkanlah kami dari berputus asa terhadap rahmat-Mu.
Ya Allah, jadikanlah sisa umur kami sebagai ladang untuk menanam kebaikan yang terus mengalir — dan lindungilah kami dari meninggalkan keburukan yang terus mengalir sepeninggal kami.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
