Seri 4 — Pintu yang Tidak Bisa Dibuka oleh Pikiran
Kita sering marah kepada takdir bukan karena takdir itu buruk, melainkan karena ia tidak sesuai dengan keinginan kita. Coba perhatikan: ketika ketetapan Allah kebetulan sejalan dengan rencana kita, kita menyebutnya karunia. Ketika ia berbeda, kita menyebutnya cobaan. Padahal keduanya sama-sama datang dari tangan yang sama, dan sama-sama tidak kita ketahui ujungnya.
Ibarat orang yang melihat sebuah film langsung pada menit keempat puluh. Ia melihat seorang tokoh dipenjara secara tidak adil, lalu ia berdiri dan protes: film ini kejam, ceritanya tidak masuk akal, penulisnya tidak punya hati. Ia tidak tahu bahwa empat puluh menit sebelumnya ada sebab yang ia lewatkan, dan lima puluh menit sesudahnya ada akhir yang belum ia tonton.
Kita persis seperti itu. Kita menghakimi seluruh cerita dari satu adegan yang kebetulan sedang kita alami.
Abdullah bin Aun berkata: terimalah dengan ridha takdir Allah, baik yang sulit maupun yang mudah, karena itu lebih meringankan pikiranmu dan lebih mendekatkanmu kepada urusan akhiratmu. Dan seorang hamba tidak akan mencapai kepuasan sejati sampai ia ridha dalam kekurangan sebagaimana ia ridha dalam kelimpahan.
Maka bagaimana mungkin kita mempertanyakan keputusan-Nya, lalu marah ketika ia tidak sejalan dengan mau kita? Boleh jadi yang kita minta dengan begitu keras itu, seandainya diberikan, justru menjadi sebab kehancuran kita. Kita cuma tidak tahu. Dan ketidaktahuan itulah yang selama ini menyamar menjadi kekecewaan.
Bila hati kita sudah ridha, semuanya berubah rasanya. Bukan keadaannya yang berubah — keadaannya sering kali persis sama — melainkan cara kita duduk di dalamnya.
Maka jangan terlalu banyak berpikir; perbanyaklah istigfar. Allah akan membuka pintu-pintu yang tidak sanggup dibuka oleh pikiran kita, betapa pun kerasnya kita memikirkannya.
Kesulitan tidak akan selamanya. Malam akan diikuti fajar. Sabar adalah ibadah yang paling indah, dan doa menghancurkan kesedihan.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ridha setelah ketetapan, dan kehidupan yang baik setelah kematian.”
