Skip to content
SERAMBI HIKMAH
Menu
  • BERANDA
  • TULISAN
    • FIKIH
    • RENUNGAN
    • CATATAN
    • FURUQ-MEMBEDAKAN ISTILAH
    • MENUA DENGAN MULIA
  • KHUTBAH JUM’AT
  • AL QUR’AN
  • TENTANG
  • LAYANAN
  • KONTAK
Menu

Dunia Tidak Pernah Sempurna: Hikmah di Balik Selimut Pendek

Posted on 07/16/202607/24/2026 by JafarHartono

Pernahkah kita duduk sejenak, lalu menghitung dengan jujur: berapa banyak hal dalam hidup ini yang benar-benar berjalan persis seperti yang kita rencanakan? Rasanya tidak banyak. Sebab dunia tidak pernah sempurna — selalu saja ada satu sisi yang belum beres ketika sisi yang lain sedang baik-baik saja. Dan anehnya, itu terjadi pada hampir semua orang, di semua zaman, tanpa kecuali.

Ibarat selimut yang terlalu pendek untuk tubuh kita. Kita tarik ke atas, dada hangat tetapi kaki menggigil. Kita tarik ke bawah, kaki terlindungi tetapi bahu kedinginan. Sepanjang malam kita sibuk menarik ke sana ke mari, dan pagi datang tanpa kita pernah benar-benar tertutup seluruhnya.

Begitulah dunia diperlakukan kepada kita. Kekayaan datang, ketenangan pergi. Ketenangan didapat, rezeki menyempit. Rezeki lapang dan hati tenang, tetapi anak-anak menjauh. Anak-anak saleh berkumpul, giliran badan yang mulai sakit-sakitan. Semuanya tampak beres di sekeliling kita, lalu satu kabar kecil dari dokter membuat semuanya terasa goyah.

Coba perhatikan lebih dekat. Yang muda punya tenaga tetapi belum punya biaya; yang tua punya biaya tetapi tenaganya sudah habis. Yang lajang merindukan teman hidup; yang sudah berumah tangga kadang diam-diam merindukan ketenangan saat sendiri dulu. Ada yang pekerjaannya lancar tetapi rumahnya gaduh, ada yang rumahnya tenang tetapi pekerjaannya seret. Ke mana pun kita menoleh, selalu ada satu sudut yang belum terselimuti. Dunia tidak pernah sempurna, dan ia memang tidak pernah berjanji untuk sempurna.

Bila kita mengira itu kesialan, kita akan sibuk marah seumur hidup. Berbeda bila kita mengerti bahwa selimut ini memang sengaja dibuat pendek, kita akan berhenti bertanya “mengapa saya” dan mulai bertanya “untuk apa ini”.

Ibnu Umar menyebut dunia sebagai tempat yang penuh lika-liku, bukan tempat yang stabil. Siapa yang mengenali watak dunia, dia tidak akan terlalu gembira karena kaya, dan tidak akan terlalu remuk karena susah. Sebab keduanya sama-sama singgah, dan keduanya sama-sama pergi.

Orang yang lupa bahwa dunia tidak pernah sempurna akan memperlakukan setiap kekurangan sebagai bencana pribadi. Sedikit saja rencananya meleset, ia merasa dikhianati oleh hidup. Padahal yang meleset itu bukan hidupnya, melainkan harapannya yang terlalu rapi. Ia menuntut selimut pendek menutupi seluruh tubuh, lalu kecewa setiap kali pagi datang. Sementara orang yang sudah berdamai dengan watak dunia belajar menikmati bagian yang hangat tanpa terlalu meratapi bagian yang masih dingin.

Lihatlah orang-orang yang paling tenang di sekitar kita. Biasanya mereka bukan yang hidupnya paling mulus, melainkan yang paling awal berhenti menuntut kemulusan. Mereka tahu bahwa gembira dan susah datang bergiliran, seperti siang dan malam yang tidak pernah bisa kita pesan hanya salah satunya. Ketika sedang lapang, mereka tidak mabuk. Ketika sedang sempit, mereka tidak putus asa. Hati yang seperti itu tidak lahir dari dunia yang serba mulus, melainkan dari kesadaran bahwa dunia memang tidak dirancang untuk sempurna.

Menerima bahwa dunia tidak pernah sempurna bukan berarti menyerah dan berhenti berusaha. Kita tetap menambal yang bisa ditambal, tetap merapikan yang bisa dirapikan. Hanya saja kita berhenti menjadikan kesempurnaan sebagai syarat untuk berbahagia. Kita belajar bersyukur atas sisi yang sudah hangat, sambil tetap berikhtiar menghangatkan sisi yang lain — tanpa merasa hidup kita gagal hanya karena ada satu ujung yang masih terbuka.

Maka justru di sinilah rahmat itu bersembunyi. Seandainya selimut ini cukup panjang, seandainya semua keinginan kita terpenuhi rapi tanpa cacat, mungkin kita tidak akan pernah merasa perlu bangun di sepertiga malam. Untuk apa mengangkat tangan kalau segalanya sudah ada di genggaman?

Barangkali karena itulah dunia tidak pernah sempurna: bukan supaya kita menderita, melainkan supaya kita tidak pernah lupa arah pulang. Kekurangan yang kita keluhkan hari ini boleh jadi satu-satunya hal yang masih membuat kita menengadah ke langit.

Ketidaksempurnaan dunia bukan hukuman. Ia adalah cara Allah menjaga agar kita tetap punya alasan untuk kembali kepada-Nya.

“Dunia dibuat tidak pernah utuh, supaya kita tidak pernah merasa cukup tanpa Allah.”

©2026 SERAMBI HIKMAH | Design: Newspaperly WordPress Theme